Belajar Bisnis dari Perjalanan Jatuh Bangun Starbuck – Bagian 1

Belajar Bisnis dari Perjalanan Jatuh Bangun Starbuck – Bagian 1

Siapa yang tidak kenal Starbuck di dunia ini? Orang-orang desa yang belum merasakannya pun sudah mengenal brand ini sejak lama. Berawal dari satu toko yang terletak di Seattle sampai bisa menjadi bisnis yang bernilai 80 billion dollar Amerika dalam kurun waktu 47 tahun. Penjualan Starbuck menguasai 57 persen dari penjualan seluruh kafe di Amerika. Sebuah angka yang sangat gila. Hampir sepertiga kopi yang terjual di Amerika berasal dari Starbuck.

Akan tetapi perkembangan bisnis yang masif ini juga mendatangkan masalahnya sendiri. Dengan hampir lebih dari 14.000 lokasi di Amerika saja, Starbuck membuat lokasi antar cabangnya terlalu rapat. Dengan mempunyai terlalu banyak toko membuat penjualan di cabang-cabang Starbuck menurun.

Pada saat itu Starbuck mulai meningkatkan harga setiap gelas kopinya. Akan tetapi jika strategi ini dilakukan terus menerus. Sudah pasti perlahan-lahan pelanggan akan pergi meninggalkan.

Bagaimana bisa terjadi? Terus bagaimana Starbuck mengatasi permasalahan ini?

Zev Siegl, Jerry Baldwin, dan Gordon Bowker yang Memulai

Pada tahun 1970 ada tiga sejawat yang ingin membuka usaha kopinya sendiri. Mereka adalah Zev Siegl, Jerry Baldwin, dan Gordon Bowker. Mereka berguru kepada Alfred Peet, Pemilik Peet’ Coffee dan merupakan orang yang bertanggung jawab membawa kopi roasting custom ke Amerika.

Peet sangat tahu industri kopi luar dalam. Terutama di bagian produksinya, grinding dan segala macam prosesnya. Bisa dibilang dia adalah orang yang paling paham mengenai kopi di seluruh dataran Amerika.

Jadi dengan bantuan Peet, tiga orang tadi membuka Starbuck, kafe kopi roasting di Seattle. Peet menyediakan biji kopi untuk kafe mereka, serta menghubungkan mereka dengan broker-broker kopi. Agar mereka bisa meracik roasting mereka sendiri, serta mempunyai sumber biji kopi lain.

5 Cabang Pertama

Di dekade pertamanya, mereka berhasil membuka 5 cabang baru. Tapi pada waktu itu budayanya berbeda dengan sekarang. Dan orang memandang Starbuck masih sebagai toko kopi biasa. Orang mungkin ke sana hanya membeli biji kopi untuk dibawa pulang, atau di grinding di sana. Tidak ada yang mengira akan membeli kopi jadi langsung di tokonya. Karena di tahun 70an, kulturnya tidak ada namanya minum kopi di luar rumah. Tidak ada warung kopi atau toko yang menjual minuman yang berbahan dasar espresso.

Menuju Bagian 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *