Siapa Yang Pertama Kali Mengenalkan Konsep Waralaba?

Siapa Yang Pertama Kali Mengenalkan Konsep Waralaba?

Waralaba atau franchise menjadi salah satu model bisnis yang sangat popular belakangan ini. Karena dengan menjadikan waralaba, kita tidak diharuskan memiliki dana yang besar untuk bisa mengembangkan bisnis kita. Mungkin dahulu ketika ingin mengembangkan bisnis, harus mempunyai dana yang besar, entah itu dari pinjam bank atau dari resource lainnya.

Kemungkinan lainnya adalah kita harus menabung profit yang didapat dari usaha kita. Dan model seperti ini sudah pasti membutuhkan waktu yang sangat lama. Untuk sekedar membuka usaha kedua saja kita bisa jadi membutuhkan waktu lebih dari 5 tahun. Jikalau usaha itu memang membutuhkan modal yang sangat besar. Seperti restoran atau bengkel.

Tetapi kita tidak terlalu membutuhkan modal dari kantong kita sendiri dengan model bisnis waralaba ini. Karena modalnya bisa lewat banyak cara. Bisa gotong royong modalnya, nanti yang mengelola satu orang. Konsep seperti ini memudahkan kita mengembangkan bisnis. Kita hanya membutuhkan konsep bisnis yang matang dan bagus.

Tapi tahukah kalian siapa yang pertama kali melakukan konsep waralaba/franchise ini?

Siapa yang Pertama Kali Menyebarkan Konsep Waralaba?

Mungkin banyak orang yang mendalami waralaba akan mengatakan bapaknya atau yang pertama kali memulai konsep waralaba ini adalah Ray Kroc lewat McDonald-nya, atau Isaac Singer lewat mesin jahitnya. Mengingat mereka yang mempunyai cabang yang juga banyak dan masif di seluruh dunia. Tapi tahukah kalian bahwa sebelum itu ada yang telah mengenalkan konsep waralaba ini?

Yang pertama kali mengenalkan konsep waralaba atau franchise adalah seorang pembantu rumah tangga asal Kanada, namanya Martha Matilda Harper. Setiap hari dia merapikan kasur,membersihkan rumah, belanja kebutuhan harian di keluarga Doktor yang berada di Ontario.

Jatuh Bangun di Awal Karir

Di sela-sela pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga, Matilda menemukan ramuan sampo istimewa. Dengan sampo tersebut, Matilda berencana untuk membuka usahanya sendiri. Sebuah salon tata rambut yang berada di tempat umum. Pada saat itu belum ada yang pernah memikirkannya.

Tetapi masalah terus muncul sebelum dia sempat menjalankan bisnisnya. Permasalahan yang pertama berasal dari dirinya sendiri. Matilda kelelahan sampai jatuh sakit. Kemudian setelah dia mulai sembuh, permasalahan kedua muncul. Matilda tidak bisa menyewa tempat usahanya.

Permasalahan kedua ini cukup pelik, karena dia adalah seorang wanita yang ingin membuka usahanya sendiri di tahun 1890. Dan pada era diskriminasi kerja terhadap perempuan masih sangat tinggi, meskipun di Amerika. Wanita hanya mengisi 17 persen pekerja dari seluruh pekerja yang ada di Amerika.

Apa yang dilakukan Matilda cukup mengagetkan masyarakat Amerika saat itu. Bukan hanya karena dia Woman in Business, tetapi juga karena Matilda melakukan hairdressing di tempat umum. Sebuah usaha yang cukup melawan status quo saat itu.

Untuk mengatasi permasalahan kedua, Matilda menyewa lawyer yang akhirnya memenangkan Matilda. Sehingga dia bisa membuka salon yang pertama dan satu-satunya di Amerika. Langkah kedua yang dilakukan Matilda adalah membuat strategi bisnis yang cukup baru. Dimana di salon tersebut dia tidak hanya memotong rambut tetapi lebih tentang membersihkan jiwa.

Buah Manis Pertama

Martha membawa nilai-nilai Kristiani ke dalam bisnisnya. Jika seorang mempunyai rohani yang kuat serta mampu taat pada apa yang Martha sebut sebagai “Aturan Kebersihan, Gizi, Olahraga, dan Pernapasan”, Orang tersebut bisa mempunyai badan/rambut serta kepribadian yang luar biasa seperti Rapunzel.

Orang-orang menyebut treatment yang diberikan oleh salon tersebut sebagai Metode Harper. Service Excellent yang diberikan Matilda, pelan-pelan mulai merambah banyak telinga. Hingga para artis terkenal penasaran dan mulai ramai berdatangan ke salon milik Matilda. Mulai saat itulah bisnis Martha mendapatkan kesuksesan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Awal Mula Konsep Franchise

Tidak berhenti di situ. Kesuksesan ini yang mengawali penemuan bersejarah. Lewat langganan artisnya yang meminta membuka bisnis di luar kota. Martha mulai mempekerjakan wanita-wanita pekerja seperti dirinya ke dalam salon persis seperti miliknya, berdedikasi dengan tujuan dan pekerjaannya. Dalam model bisnis lama kebanyakan pemilik usaha hanya seperti membuka toko baru saja. Dalam artian dia juga masih yang menggaji karyawannya, dia juga yang menghitung keuangannya, dll.

Metode Harper tidak seperti itu. Setiap cabang salon Martha tidak digaji oleh Martha. Setiap salon ini menjadi milik pribadi pemilik-pemiliknya. Dan diatas itu Martha juga masih memberikan pengawasan serta edukasi bagaimana usahanya harus berjalan. Yang akhirnya sudah memiliki sekitar 500 cabang di seluruh Amerika, bahkan sampai Asia.

Jadi ketika kalian berbelanja atau sedang merasakan jasa-jasa yang berkembang lewat konsep franchise. Jangan lupa tentang Martha Matilda Harper, seorang wanita yang mengawali karirnya sebagai pembantu rumah tangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *