Pivoting Starbuck, Dari Jualan Biji Kopi Menjadi Kafe Populer – Bagian 2

Pivoting Starbuck, Dari Jualan Biji Kopi Menjadi Kafe Populer – Bagian 2

Kultur Minum Kopi Amerika

Pada era 1970an kultur minum kopi belum seluas sekarang. Dahulu kopi hanya jadi hidangan rumah. Tidak ada yang memikirkan berjualan kopi di pinggir jalan, membuat warung yang menjual kopi. Semua berpikir jika ingin minum kopi ya pasti di rumah.

Toko kopi lebih spesifik lagi tugas/kerjanya pada masa itu. Yaitu hanya menjual biji kopi langsung ke pelanggan, atau hanya membantu menggiling biji kopi agar siap seduh.

Fokus Starbuck pada masa itu pun juga masih sama, yaitu agar para konsumen dapat memperoleh biji kopi kualitas unggulan. Karena konsumen pada saat itu lebih terbiasa pada kopi instan dan kopi kaleng.

Bergabungnya Howard Schultz

Ikonik, Starbuck, Cup Gelas

Tetapi semua itu berubah ketika satu orang ini masuk ke Starbuck, Howard Schultz. Dia adalah seorang yang sangat professional di bidang marketing dan sales. Hal ini juga menjadi pencapaian tersendiri bagi Starbuck. Karena Schultz merupakan profesional pertama yang mereka rekrut.

Saat turun tangan menangani Starbuck, Schultz bingung kenapa Starbuck tidak menjual minuman? Di saat itulah proses pivoting Starbuck dimulai.

Pivoting atau Redefinisi Usaha Starbuck

Setelah bepergian ke Itali di tahun 1983, Schultz mengemukakan idenya untuk merubah Starbuck yang sebelumnya toko biji kopi menjadi kafe.

Di tahun berikutnya akhirnya Starbuck menjual latte pertama mereka. Keputusan Schultz berhasil. Kafe Starbuck memperoleh sukses besar.

Strategi Invasi Besar-Besaran

Ekspansi, Starbuck, Invasi Besar

Empat tahun kemudian Schultz Bersama investor membeli Starbbuck sebesar 3,8 juta US dollar. Dari situ Schultz memakai strategi ekspansi secara agresif. Di saat Starbuck going public di tahun 1992, mereka bahkan sudah mempunyai 165 cabang. Dan di tahun 1996, mereka membuka lebih dari 100 cabang lagi di beberapa kota. Termasuk ke Luar Negeri. Yaitu ke Singapura dan Jepang.

Perkembangan mereka sangat luar biasa. Hanya dalam waktu tiga tahun mereka berhasil membuka 2000. Usahanya terus berkembang dan terus melakukan ekspansi sampai cabang mereka mencapai lebih dari 15.000. Mendongkrak pesat penjualan mereka yang semula Cuma sekitar 2 juta US dollar, kini sudah mencapai 9,4 juta US dollar, atau sekitar 150 milliar rupiah jika dirupiahkan pada tahun ini.

Konsumen pun mulai meninggalkan mug biasa mereka dan menggantinya dengan cup ikonik kepunyaan Starbuck. Saking fenomenal atau viral-nya Starbuck pada masa itu.

Bagian 3

Belajar Bisnis dari Perjalanan Jatuh Bangun Starbuck – Bagian 1

Belajar Bisnis dari Perjalanan Jatuh Bangun Starbuck – Bagian 1

Siapa yang tidak kenal Starbuck di dunia ini? Orang-orang desa yang belum merasakannya pun sudah mengenal brand ini sejak lama. Berawal dari satu toko yang terletak di Seattle sampai bisa menjadi bisnis yang bernilai 80 billion dollar Amerika dalam kurun waktu 47 tahun. Penjualan Starbuck menguasai 57 persen dari penjualan seluruh kafe di Amerika. Sebuah angka yang sangat gila. Hampir sepertiga kopi yang terjual di Amerika berasal dari Starbuck.

Akan tetapi perkembangan bisnis yang masif ini juga mendatangkan masalahnya sendiri. Dengan hampir lebih dari 14.000 lokasi di Amerika saja, Starbuck membuat lokasi antar cabangnya terlalu rapat. Dengan mempunyai terlalu banyak toko membuat penjualan di cabang-cabang Starbuck menurun.

Pada saat itu Starbuck mulai meningkatkan harga setiap gelas kopinya. Akan tetapi jika strategi ini dilakukan terus menerus. Sudah pasti perlahan-lahan pelanggan akan pergi meninggalkan.

Bagaimana bisa terjadi? Terus bagaimana Starbuck mengatasi permasalahan ini?

Zev Siegl, Jerry Baldwin, dan Gordon Bowker yang Memulai

Pada tahun 1970 ada tiga sejawat yang ingin membuka usaha kopinya sendiri. Mereka adalah Zev Siegl, Jerry Baldwin, dan Gordon Bowker. Mereka berguru kepada Alfred Peet, Pemilik Peet’ Coffee dan merupakan orang yang bertanggung jawab membawa kopi roasting custom ke Amerika.

Peet sangat tahu industri kopi luar dalam. Terutama di bagian produksinya, grinding dan segala macam prosesnya. Bisa dibilang dia adalah orang yang paling paham mengenai kopi di seluruh dataran Amerika.

Jadi dengan bantuan Peet, tiga orang tadi membuka Starbuck, kafe kopi roasting di Seattle. Peet menyediakan biji kopi untuk kafe mereka, serta menghubungkan mereka dengan broker-broker kopi. Agar mereka bisa meracik roasting mereka sendiri, serta mempunyai sumber biji kopi lain.

5 Cabang Pertama

Di dekade pertamanya, mereka berhasil membuka 5 cabang baru. Tapi pada waktu itu budayanya berbeda dengan sekarang. Dan orang memandang Starbuck masih sebagai toko kopi biasa. Orang mungkin ke sana hanya membeli biji kopi untuk dibawa pulang, atau di grinding di sana. Tidak ada yang mengira akan membeli kopi jadi langsung di tokonya. Karena di tahun 70an, kulturnya tidak ada namanya minum kopi di luar rumah. Tidak ada warung kopi atau toko yang menjual minuman yang berbahan dasar espresso.

Menuju Bagian 2